Malam

Uncategorized No Comments
Blog Entry    

 

Ketika malam menyapa…

Kurasakan sayup-sayup bisikan

 

Dimanakah dirimu?

Ingin ke mana kau pergi?

Apa lelah jadi hantu tidurmu?

 

Berbagai Pertanyaan menelusup…

Bicara penuh keingintahuan

Bicara memburu…

Mengajakku terdiam sesaat

 

Kupandangi dinding-dinding sepi

Kudapati mimpi-mimpi…

Kemarin sore…

Seolah hanya jadi catatan pengantar tidur

Agar tak lelah kuberpikir

Agar keringat tak bergulat dengan emosi jiwa…

 

Malam…

Sudah malam…

Tapi aku masih terjaga meratap mimpi…

Aku lelah

Setelah sepuluh kilo berlari

Berjam-jam memohon…

Berhari-hari menangis

 

Malam…

Sampai kapan pun

Kau pasti akan hadir…

Mengajakku memeluk mimpi

Menyadarkanku pada sebuah arti

 

Aaaah…

Lagi-lagi ku lelah…

Bergumul dengan otak, jiwa dan emosi…

Terkekeh dapati diri kehilangan mimpi

Bagai runtuh istana pasirku…

Bagai runtuh mata hatiku…

 

Tidaaak…

Malam, jangan tinggalkan aku…

Aku tak mau terkungkung sepi

Nikmati mentari…

Tanpa aku membuka catatan malam…

Negeri Ketujuh

Uncategorized No Comments

 

 

 

Bila telah sampai pada negeri ketujuh, jangan lupa tetap menatap langit. Buat lukisan indah dari mimpi dan angan.

 

Singgahilah negeri-negeri lain untuk dapatkan sekantung hikmah, setetes ilmu dan secercah harapan.

 

Jangan pernah terlelap terlalu lama dalam keindahan negeri ketujuh, hingga tak kau sadari kenikmatan bisa berhenti seketika…*

 

 

************

 

 

Ada sebuah tempat bernama negeri ketujuh. Negeri puncak segala negeri. Negeri indah, menyenangkan, damai penuh dengan kebahagiaan…

 

Sudah lebih dari beberapa bulan ini Diar ada di negeri ketujuh. Negeri yang menyenangkan, penuh kehangatan dan nyaman. Diar begitu menikmatinya hingga kadang tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di luar negeri itu. Diar terlalu sibuk untuk berkutat terus mengumpulkan pundi-pundi hingga lelah dan terlelap dalam selimut indah, kasur empuk berisi bulu angsa. Diar tak ingin pergi dari negeri ketujuh walau ada banyak orang yang ingin menemui Diar. Diar teramat sangat sibuk memperindah tempat barunya. Diar juga tak ingin meninggalkan negeri itu. Diar merasa pejuangannya kemarin-kemarinlah yang membawanya ada di negeri itu. negeri bebas ancaman, negeri tanpa bahaya.

 

Diar lupa pada tulisan peringatan di depan gerbang negeri ketujuh. Diar terlena dalam kenikmatan negeri ketujuh.

 

Diar kini tak lagi punya mimpi-mimpi. Cukup tinggal di negeri ketujuh saja sudah bisa memenuhi keiginannya. Tapi, entah apa yang terjadi malam itu. Ketika terlelap dalam hangat, Diar bermimpi ada di negeri angan, kemudian terlempar ke negeri impian hingga akhirnya, Diar terbangun di luar negeri ketujuh. Diar terpaku diam, ketika tak mampu lagi membuka gerbang menuju negeri ketujuh.  

 

Diar tak mampu berkata-kata lagi, hingga hanya sesal yang menghantui diri. Sesal karena tak pernah lagi melukis mimpi dan angan di langit. Tak lagi mewarnai harapan dan asa di tengah laut. Diar terlelap di negeri ketujuh.

 

Diar terdiam. Diar sadar telah lupa  melukis mimpi, lalai menggantung cita di langit. Tidak sembarang orang bisa berada di sana. Tak semua orang bisa bertahan lama di sana. Hanya mereka yang terus berlari dengan sangat cepat, bisa ada di sana. Diar ingin sekali masuk ke negeri ketujuh, tapi tak mampu.

 

Diar menaiki kereta kuda dengan sedikit bekal. Kereta kuda terus berjalan. Kini Diar terdampar di pulau tak bertuan. Tak ada negeri yang ingin menerima Diar. Sekarang, Diar tak bisa meninggalkan pulau itu. Diar harus melukis mimpi di langit bila ingin ke luar dari pulau tak bertuan. Diar menatap kosong langit. Semenjak di negeri ketujuh, Diar sudah lupa pada mimpi-mimpinya.

 

Diar benar-benar tak sanggup lagi berdiri tegak, bahkan tangannya kian melemah melukis mimpi. Ditatapnya langit. Dipandangnya lautan luas terbentang. Diar ingin merasakan dinginnya air laut hingga Diar menemukan sebuah buku usang . Buku itu dilempar seseorang dari negeri mimpi. Diar membuka buku itu dengan perlahan. Kenangan masa-masa Diar melukis mimpi-mimpi di langit. Kenangan Diar pada kehangatan cinta di negeri kasih. Kenangan Diar pada negeri angan, dan negeri-negeri yang pernah Diar singgahi sampai pada negeri ketujuh.

 

Diar tertegun membaca mimpi-mimpinya. Banyak sekali yang tak Diar dapatkan. Diar terjebak dengan rutinitas semu hingga Diar menemukan kenyamanan di negeri ketujuh.

 

Diar termenung. Langit begitu luas. Bintang-bintang bertaburan. Mimpi-mimpi berterbangan mendekati bintang. Tampak di kejauhan anak-anak kecil melukis mimpi, manusia-manusia dewasa mengukir asa. Beberapa orang terlihat menggantung cita-citanya mendekati bintang.

 

Diar mengambil pena dalam buku. Dalam hati, Diar pancangkan asa dan cita-citanya. Diar tegak berdiri mencoba melukis mimpi di langit. Mengingat satu demi satu impiannya. Hingga akhirnya terbentang jembatan pelangi menuju negeri harapan. Diar langkah kaki-kakinya menjejak harapan baru.

 

Di sini Diar tinggal. Di negeri harapan. Diar bisa singgah ke negeri mimpi untuk melukis. Diar bisa berlari menuju negeri cita untuk mengasah ketrampilannya dan bisa sejenak duduk di taman cinta, mentafakuri keindahan ciptaan-Nya.

 

Sejauh mata memandang,  negeri ketujuh kembali jadi impian… melemparkan senyuman paling indah untuk harapan dan kasih sayang…

 

 

*Tertulis di depan gerbang negeri ketujuh

 

Segala hal bisa diraih dengan kerja keras, Ayo terus bermimpi…

SEMANGAT :)

 

 

 

Untuk mbak Lia, thanks for sharing :) Aku benar-benar mendapat pencerahan darimu. Luv u coz Allah :)

 

foto diambil saat magrib

tak pantas

renungan, puisi No Comments

setiap hari udara dengan leluasa bisa kuhirup, makanan bisa kukecap, minuman menjadi pelepas dahaga…

setiap jam
setiap menit
setiap detik

kurasakan nikmat
nikmat…
nikmat

berapa kali kubilang pada diri ini…
cukup bagiku Allah…
tapi, berapa kali aku berharap pada manusia…

berapa kali aku terus merasa aman
karena dilindunginya…
tapi, berapa kali aku justru menyia-nyiakan perlindungannya…

berapa kali nikmat-nikmat itu
hingga aku bisa ada di baitulloh
terselamatkan dari penyakit mematikan
dimudahkan ketika menuntut ilmu

diberi
dan terus diberi

tapi berapa kali…
aku merasa tak bersyukur
merasa kurang
merasa goyah
lemah semangat
tak mampu…

berapa kali Dia… melimpahkan kasih-Nya…
ramadhan itu
waktu itu
kapanpun itu
di manapun diriku

apa ibadahku mampu menjawab….

………………………………………………………

SEBUAH UJIAN

renungan, sharing, berpikir No Comments

 

 Sekali lagi aku dihadapkan sebuh skenario yang indah dari Allah…

 

Sebuah ujian disodorkan kepadaku beberapa bulan lalu. Selama itu aku sibuk berkutat dengan soal-soal yang begitu sulit aku pahami. Namun, ada beberapa hal juga yang menyadarkanku, mengajakku mengulang pelajaran-pelajaran kemarin. Membuatku berpikir dan mengajakku untuk mengevaluasi diri. Waktu mengisi ujian begitu lama bersamaan dengan soal-soal yang terus datang. Kadang aku bisa menjawabnya dengan baik dan mulai memperbaiki beberapa hal. Tapi, kadang jawabanku meleset jauh dan aku terbentur dengan keadaan yang aku buat sendiri.

 

Sebenarnya aku bisa banyak bertanya ke orang lain. Yah, ini tidak seperti ujian SPMB ataupun midtest dan final test ketika masih kuliah dulu. Di sini aku diberi kesempatan untuk mencari jawaban di mana pun aku mau. Aku tidak hanya mempunyai tiga pilihan seperti di kuis Who Want to be a Miliorner. Aku punya banyak pilihan. Dalam keadaan tersebut, sering aku memanfaatkan untuk berkonsultasi pada orang terdekat. Aku juga mencoba mengadu kepada Sang Pemberi Ujian.

 

Aku sadari penuh orang-orang terdekat tetaplah bukan penentu apa yang akan aku jawab pada ujian itu. Aku tetap harus menjalani dan menjawabnya sendiri. Tapi, menjalani ujian tak semudah yang aku duga. Tak semudah segala teori yang aku tahu.

 

Betapa seringnya aku tidak berkonsentrasi. Betapa seringnya aku tak fokus pada jawaban yang membuatku kadang tak berhasil menemukan jawaban. Sekali, dua kali aku tersandung hal yang sama. Betapa banyak hal yang sering mengecohku untuk menemukan jawaban yang sebenarnya. Aku jalani beberapa kegiatan baru dan aku jalani ujian-ujian itu dengan banyak perasaan hingga pada titik-titik jawaban yang mulai terkuak.

 

Aku sadari beberapa hal setelah aku menerima jawabannya hari ini. Jawaban yang datang lewat angin dan dibawa oleh hujan. Aku menghimpun semuanya, menghubungkan satu demi satu ujian kemarin. Entah kalau diakumulasi aku dapat nilai berapa. Entah apa yang akan ditulis di raporku nanti.

 

Sekarang yang ingin aku lakukan adalah mengevaluasi pelajaran-pelajaran yang telah aku dapat. Me-review kejadian demi kejadian dan jawaban yang telah selesai aku himpun hari ini.

 

Nanti, akan hadir ujian-ujian baru yang harus kukerjakan dan aku harap aku bisa mengerjakan dengan lebih baik lagi.

 



Pondok Kelapa, Akhir Januari 2008


 

novi_khansa’kreatif
~Graphic Design 4 Publishing~
YM : novi_ningsih
http://akunovi.multiply.com
http://novikhansa.rezaervani.com/

Kita Benar-Benar Sudah Lupa

renungan, berpikir No Comments

Hari sudah menjelang siang ketika kaki ini mulai melangkah. Seorang teman dari luar kota datang ke Jakarta untuk tes masuk kerja. Aku diminta menemaninya. Aku lalui jalanan dengan perasaan gundah. Entah datang dari mana, rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri ini. Sebuah semangat, semangat seorang manusia dalam mengais rezeki. Optimisme yang luntur karena beberapa persoalan yang tengah kuhadapi.

Penumpang dalam angkot hanya sedikit. Si supir tetap melakukan usaha mencari penumpang dengan berhenti beberapa kali di pinggir jalan menunggu penumpang lainnya. Sering kuperhatikan, para supir sambil menyetir mobilnya menghitung perolehan rezekinya. Tak lama, uang tersebut harus berpindah tangan ke pegawai SPBU karena harus mengisi bensin.

Ketika menaiki mikrolet menuju rumah, saya pernah mendengar seorang supir yang mengobrol dengan teman sesama supir di jalan raya yang padat, kalau dirinya akan berhenti menjadi supir dan pulang kampung. Entah karena hidup sebagai supir tak mencukupi kebutuhan di Jakarta yang serba mahal, entah karena kemaceten di Jakarta yang kian memusingkan kepala. Apalagi, rute mikrolet itu di daerah kalimalang yang akan melewati banyak titik kemacetan.

Tidak hanya angkutan umum seperti mikrolet, bus, metromini yang setiap pagi dan sorenya dijejali penumpang, KRL ekonomi Jakarta Bogor pun sama, selalu dipadati hingga tak jarang para penumpangnya jadi target pencopetan. Seorang teman pernah mengeluhkan kondisi padatnya kereta api hingga dia mulai tak tahan lagi setiap hari ketika berangkat dan pulang kerja. Tapi, mau bagaimana lagi, kebutuhan harus dipenuhi dan dia adalah tulang punggung keluarga yang harus membiayai beberapa kebutuhan di rumahnya.

Setiap hari, pagi dan sore, orang-orang berjejalan di bus menuju tempat mengais rezeki. Ada juga yang sedang mencari pekerjaan. Para pegawai tahu akan digaji berapa tiap bulannya, tapi sering merasa kurang dengan penghasilan yang didapatnya. Di sekeliling mereka ada supir mikrolet, angkot metro mini. Di sana juga ada pedagang asongan, ojek, dan banyak lagi.. Bagaimana dengan para pedagang, supir dan lainnya. Apa mereka tahu akan dapat berapa.

Selama perjalanan aku disuguhkan banyak hal. Mengajakku untuk berpikir dan mengoreksi diri. Bagaimana rezeki itu datang dari Allah. Bagaimana, kita sebagai manusia harus selalu berusaha.

Saya tertegun menatap seorang pedagang asongan. Berapa ya uang yang akan dibawanya pulang. Apa cukup untuk makan hari itu? Atau berapa uang yang akan diserahkan sang supir untuk keluarganya nanti? Apa cukup untuk biaya sekolah anaknya? Hmmm, seperti halnya juga saya. Saya bukan orang gajian. Tiap bulan saya tak pernah tahu akan dapat berapa dari hasil kerja saya. Kadang hal itu membuat saya pesimis dan bingung, kadang membuat saya merasa bersemangat untuk berusaha terus.

”Rezeki itu di tangan Allah”. Kata-kata itu memang benar adanya, tapi klise terdengar bagi orang yang hidupnya kelelahan mengais rezeki setiap hari.

Setiap hari disibukkan dengan berbagai persoalan yang kian bertambah. BBM naik, sembako naik, anak mesti bayar SPP, biaya listrik naik sementara penghasilan tak juga bertambah dan korupsi tetap merajalela.

Kata-kata ”rezeki di tangan Allah” tak lagi menjadi penghibur di kala susah. Padahal, kalau kita meyakini, kita tak akan pernah takut melewati hari-hari kita. Baik sebagai karyawan, pedagang ataupun freelancer. Rezeki tak akan pernah tertukar, tinggal bagaimana kita menjemputnya. Rasanya sebagai manusia, kita tak akan pernah puas kalau tak bisa mensyukuri nikmat yang Dia beri.

Aku jadi ingat perbincanganku dengan seorang sahabat. Dia mengutip ucapan seorang motivator. Bahwasanya, yang sering mematahkan semangat kita terhadap rezeki atau penghasilan adalah besarnya ketergantungan kita terhadap kantor, orang lain, klien yang seolah-olah merekalah pemberi rezeki kita.

Astaghfirullah, kita benar-benar sudah lupa dengan kuasanya.

Untuk seorang sahabat, Thanks for sharing.

http://akunovi.multiply.com/
http://novikhansa.wordpress.com/
http://www.eramuslim.com/atk/oim/8204224002-kita-benar-benar-sudah-lupa.htm

« Previous Entries